Sabtu, 21 Januari 2017

Luis Milla, Indonesia New Head Coach

Luis Milla Aspas has recently been announced as Indonesia National Football Team head coach to replace Alfred Riedl. The 50 year old Spanish is appointed for Indonesia-Spain similarity in football, according to the Football Association of Indonesia (PSSI) chairman, Edy Rahmayadi. In addition, the PSSI Secretary General, Ade Wellington, also said that Milla's advantage is that he led Spain U-21 as the Champions of Euro U-21 in 2011.
 
Luis Milla was a defensive midfielder in his playing career. As a player, he played for three big teams, Barcelona, Real Madrid, and Valencia. He had a 16-year-professional career. He won three La Liga titles with both Barcelona and Real Madrid. He played in a total of 338 games and scored 11 goals. 

Milla spent his youth career at Teruel and Barcelona before being promoted to Barcelona B in 1985. He was then given chances to show his ability in Barcelona first team in 1988 and helped Barcelona win one La Liga title. In 1990, he moved to Real Madrid on a free transfer. He won two La Liga titles with Real Madrid. In 1997, he moved to Valencia after being failed to compete against Fernando Redondo in the first team. He played in 79 games for Valencia before retiring in 2001.

Luis Milla started his coaching career in 2006-2007 season at Pucol for one year and assisted Michael Laudrup at Getafe the following season. In summer 2008, Milla was named Spain U-19 coach following Vicente Del Bosque's appointment as Spain head coach. In 2009 UEFA European Championship, his team failed to go through the group stage. In the 2010, in France, he brought Spain U-19 to the final and was defeated by France. In the same year, he replaced Juan Ramón López Caro to lead Spain U-21 that qualified for the 2011 European championship. In the 2011 European championship finals in Denmark, Milla led the Spain U-21 to claim their third title. He was sacked after Spain U-21 failed to qualify to the 2012 London Olympics. Afterwards, Milla managed three clubs, Al Jazira,, Lugo, and Real Zaragoza during three years time.

In January 2017, Luis Milla was confirmed as Indonesia head coach after defeating another candidate, Luis Fernandez. As the new head coach, Luis Milla is given a target to win 2017 SEA Games gold medal. With his experiences, he is also expected to bring Indonesia to the semifinal of 2018 Asian Games.

Sabtu, 16 Juli 2016

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS); itulah tajuk baru dari kegiatan orientasi sekolah yang telah sekian lama dilakukan oleh sekolah-sekolah di seantero Indonesia. Tahun 2016 menjadi titik awal perubahan dalam tata kelola pencetakan sumber daya manusia di Indonesia. MPLS tampaknya menjadi salah satu alat bagi Mendikbud Anies Baswedan dalam merevolusi pendidikan di Indonesia dimulai dari para siswa barunya. Hal ini jelas terlihat dalam tujuan Pengenalan Lingkungan Sekolah yang terdapat di Permen No 18 Tahun 2016  Tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru sebagai berikut:
1. Mengenali potensi diri siswa baru.
2. Membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan sekitarnya, antara lain terhadap aspek keamanan, fasilitas umum, dan sarana prasarana sekolah.
3. Menumbuhkan motivasi, semangat, dan cara belajar efektif sebagai siswa baru.
4. Mengembangkan interaksi positif antarsiswa dan warga sekolah lainnya.
5. Menumbuhkan perilaku positif antara lain kejujuran, kemandirian, sikap saling menghargai, menghormati keanekaragaman dan persatuan, kedisplinan, hidup bersih dan sehat untuk mewujudkan siswa yang memiliki nilai integritas, etos kerja, dan semangat gotong royong pada diri siswa.

Dari tujuan MPLS di atas, dapat kita interpretasikan dengan mudah bahwa Mendikbud memiliki keinginan yang baik untuk sepenuhnya menghapus perpeloncoan dari semua sekolah di Indonesia. Perpeloncoan telah sekian lama menjadi trademark dari masa orientasi atau inisiasi siswa baru di sekolah. Telah jatuh pula sekian banyak korban jiwa dalam pelaksanaan orientasi siswa baru. Selain korban jiwa, MOS di masa lalu terbukti memberikan efek negatif dalam tumbuh kembang siswa di sekolah. Senioritas yang dibumbui dengan pembalasan dendam akibat apa yang dialami sang senior di masa lalunya tatkala menjadi siswa baru sehingga mereka pun akan melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih kejam, terhadap yuniornya menjadi warna yang sangat kental terasa dalam penyelenggaraan setiap MOS di masa lalu.

Perubahan radikal ini tentu memunculkan berbagai tanggapan. Ada yang pro ada yang kontra. Namun demikian, yang patut disorot lebih tajam adalah apakah MPLS ini berjalan benar-benar sesuai dengan tujuannya atau hanya sekadar tong kosong yang nyaring bunyinya. Disini sangat dibutuhkan peran serta yang luas dari masyarakat untuk ikut memantau jalannya MPLS. Bagaimana bentuknya? Masyarakat sebagai stakeholder pendidikan Indonesia berhak dan sangat berhak untuk melaporkan setiap tindak pelanggaran MPLS. Pihak sekolah juga perlu sangat aktif dalam mengomunikasikan gerak langkah mereka berkaitan dengan pelaksanaan MPLS ini. Sekolah diharapkan untuk tidak menutup diri melainkan seluas-luasnya memberikan ruang bagi publik untuk ikut mengawasi jalannya MPLS ini. Di luar itu, sekolah juga harus mulai belajar untuk tidak memberikan laporan yang ABS atau Asal Bapak Senang hanya agar citra sekolah tetap terlihat baik  melainkan melaporkan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Semoga MPLS ini akan berjalan sesuai dengan harapan setiap warga negara Indonesia dan semoga pula MPLS menjadi tonggak perubahan para penerus bangsa ini. Mari kita berperan serta memajukan pendidikan Indonesia  dengan berbagai cara yang bisa kita lakukan.
Salam Pendidikan Indonesia.



Sabtu, 30 April 2016

Words on a Silent Night

It's not yet late at night, but it's almost... It's the time when thoughts are flying to somewhere that... I don't really know for sure what it is. Absurd. Yes, it might be absurd when you don't have any idea about the place you belong. But, it depends. It depends on one's perception to judge what it really is.
It's terribly embarassing to find out that you've been trapped here and like this. What kind of creature you are? Is it the reflection of your inability to feel grateful? Or, is it just that you've put yourself into a disastrous, horrible state of mind?
All right. All right. Time creeps slowly, slowly, and as seconds quietly pass me by, I began to realize how expensive time is. Once you pass time, you'll never get it back again.
I'm not a kind of philosopher whose words and life are so meaningful and trustworthy and should be referred to. No. Too far. Too far from that. I'm just trying to see this night as a gift and that this second won't come again.

Jumat, 01 Januari 2016

The 1st page of 366 page

Yappp. Ini adalah halaman pertama dari total 366 halaman di tahun 2016. Jumlah halaman ini tentu merujuk pada jumlah hari di tahun 2016 ini, bukan jumlah halaman di yang akan saya tulis di blog ini. Hehehe.

All right. Let's move on to our main discussion. Michael Owen di awal tahun ini berkata, "Today is the 1st of January 2016. That means we won't be in 2015 anymore." 
Maksud Owen jelas. Ini tahun baru, mari kita move on. Itu saja.

Lantas, apakah hal-hal di tahun 2015 harus kita lupakan begitu saja? Tentu saja tidak. Tapi toh tidak baik untuk terlalu banyak menengok ke belakang. Bayangkan saja apa yang akan terjadi jika kita mengendarai sepeda motor dan kita terus melihat ke belakang. Kita tidak akan pernah sampai tujuan karena kita tidak segera maju dan berjalan. Kalau kita nekad jalan dengan terus melihat ke belakang, pasti akan menabrak apapun yang ada di depan kita.

Kendaraan kita dilengkapi dengan spion yang fungsinya melihat apa yang terjadi di belakang kita sehingga kita tidak perlu menengok ke belakang atau jika kita memang kita perlu menengok ke belakang, kita tidak perlu terus menerus melakukannya. Cukup lihat spion dan sesekali tengok ke belakang. Melihat spion pun tidak perlu dilakukan terus-terusan. Bahaya broooo. Fokusnya ya ke arah depan. Melihat yang terjadi di belakang hanya dibutuhkan untuk melihat keadaan di belakang agar kita selamat saat berbelok atau melakukan take over.

Lalu apa hubungannya dengan hidup kita di tahun 2016 ini? Kira-kira begini. Boleh lah kita sesekali melihat yang terjadi di tahun lalu sebagai sebuah pengingat agar kita tetap mawas diri dan tidak lupa terhadap bagian dari sejarah hidup kita. Namun demikian, yang utama adalah melihat ke depan. Moving forward itu artinya berjalan maju dan menatap ke depan agar aman dan selamat sampai tujuan. Soal apa yang jadi tujuan, itu terserah pribadi masing-masing. Mari kita tatap tahun 2016 dengan pasti. Mau punya rencana atau tidak itu bebas, yang penting mari kita menatap ke depan dan melihat masa lalu sebagai sebuah pelajaran agar kita tetap mawas diri, bukan sebagai penghambat untuk maju.
Okay. 2016, I love you so much.
 

Senin, 23 November 2015

Setya Novanto dan Pertaruhan MKD

Hari ini, 23 November 2015, Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) akan melakukan rapat internal berkaitan dengan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan Ketua DPR Setya Novanto. Masyarakat luas tentu berharap bahwa kasus dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh Setya Novanto dapat dilakukan secara transparan dan adil.
Dapatkah MKD memutus kasus ini dengan seadil-adilnya? Hal ini tentu bergantung pada nurani para anggota MKD. Jika mereka masih memiliki hati dan pikiran yang bersih maka tentu saja mereka akan berupaya untuk menangani kasus ini dengan baik. Namun jika tidak, maka mereka akan berupaya untuk menyelesaikan kasus ini demi kepentingan salah satu pihak.
Gawatnya lagi adalah jika ternyata di tengah penyelesaian kasus ini bergelimang uang sebagai jaminan lolosnya Setya Novanto dari lubang jarum. Masyarakatyang menjadi penonton dalam kasus ini nantinya akan sangat mudah menilai integritas MKD melalui putusannya menyangkut nasib Setya Novanto.
Mahkamah Kehormatan Dewan diminta tak mengulangi kesalahan mereka lagi seperti saat Setya Novanto lolos dalam kasus kehadirannya di kampanye Donald Trump. Keputusan MKD yang meloloskan Setya Novanto atas pertemuannya dengan Donald Trump telah menampar wajah lembaga tersebut di hadapan masyarakat.
Kasus "papa minta saham" ini akan menjadi pertaruhan bagi kepercayaan masyarakat kepada MKD. Jika MKD mengedepankan integritasnya maka masyarakat akan memberikan standing ovation, namun jika sebaliknya, maka MKD harus siap menerima penghakiman dari masyarakat.


Diambil dari:
http://www.kompasiana.com/yohanes_sandi/setya-novanto-dan-pertaruhan-mkd_565282f72f7a61fa038b458f

Senin, 16 November 2015

Who's gonna come to my funeral?

Beberapa hari yang lalu, seorang rekan saya melontarkan sebuah pertanyaan yang mengejutkan saat kami sedang berbincang ringan, Ia bertanya, "Suk nek aku mati ono sing ngrumat ra ya?"

Sontak saya terhenyak dengan pertanyaan tersebut. Spontan saya menjawab, "Ono. Aku bakal ngrumat kowe nek aku durung ditimbali luwih dhisik..."

Pertanyaan tersebut rupa-rupanya muncul karena rekan saya begitu kagum dengan besarnya penghormatan yang diberikan oleh umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang ketika melepas kepergian Mgr. J. Pujasumarta ke peristirahatan terakhirnya.
Umat begitu "bersemangat" untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Mgr. Puja. Mulai sejak jenazah Mgr. Puja disemayamkan di Gereja Katedral Semarang, di sepanjang perjalanan dari Semarang menuju ke Yogyakarta, dan hingga beliau dimakamkan di Kentungan, Yogyakarta, ribuan umat rela berdesak-desakan untuk sekedar melihat peti jenazah beliau.

Pertanyaan reflektif tersebut pun membuat saya berpikir ulang tentang hidup saya. Lantas, muncul pertanyaan lanjutan di kepala saya,. Sudah siapkah saya jika Yang Mahakuasa setiap saat memanggil saya? Sudah cukupkah modal kebaikan yang saya kumpulkan sampai saat ini untuk membawa saya pulang kepada-Nya? Apakah ada orang-orang yang rela menemani saya di saat-saat terakhir saya sebelum berpulang? Apakah orang-orang tersebut mau merawat saya yang telah lunglai tak berdaya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus berputar di kepala saya. Kemana saya harus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan aneh tersebut?

Saya coba bertanya kepada beberapa orang terkait pertanyaan tersebut. Sebagian besar dari mereka menjawab, "Rasah aneh-aneh. Rasah takon sing aneh-aneh."

Tentu saja jawaban tersebut tidak dapat memuaskan hasrat saya. Saya terus mencari dan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut hingga akhirnya seorang rekan senior menjawab dengan lugas, "Sing sapa gelem nglakoni kabecikan lan uga gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran." Kalimat itupun masih bersambung, "Lan ojo lali, sapa sing nandur bakal ngundhuh..."

Jawaban tersebut membuka mata saya bahwa semua yang terjadi di dunia ini memang berakar pada hukum sebab-akibat. Apa yang kita terima bersumber dari apa yang telah kita lakukan. Jika yang kita tanam adalah bibit kebaikan maka yang akan kita tuai adalah kebaikan pula.

Mudahkah? Tentu tidak. Sebaik-baiknya yang kita lakukan kadang masih ada saja yang mencela. Lantas kita harus bagaimana? Kita memiliki pilihan akan apa yang harus dilakukan. Namun demikian, semua perlu kita kembalikan ke dalam diri kita lagi. Sudahkah kita sempurna sehingga kita tidak mau dicela? Atau, bersediakah kita dengan penuh kerendahan hati mengakui segala kekurangan kita?

Mgr. Pujasumarta, sang gembala umat, memiliki motto hidup Duc In Altum. Duc in Altum, mempunyai arti bertolak ke tempat yang lebih dalam. Mgr. Puja begitu menghayati motto hidupnya dengan terus merefleksikannya dalam hidup sehari-hari. Walhasil, Mgr. Puja hadir sebagai pribadi yang sangat sederhana dan rendah hati.

Mana yang akan kita pilih, menjadi sombong atau memilih untuk tetap rendah hati? Banyak ajaran-ajaran dan keutamaan-keutamaan yang kiranya dapat menuntun kita untuk mencapai hidup yang lebih baik. 

Finally,
Durung menang yen durung wani kalah, durung unggul yen durung wani asor, durung gedhe yen durung wani cilik.
Gusti iku dumunung ana atining manungsa kang becik, mula iku diarani Gusti iku bagusing ati.
Sing sapa gelem nglakoni kebecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran. - See more at: http://www.peribahasa.net/peribahasa-jawa.php?page=2#sthash.Vjds3W8q.dpuf
Sing sapa gelem nglakoni kebecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran. - See more at: http://www.peribahasa.net/peribahasa-jawa.php?page=2#sthash.Vjds3W8q.dpuf
Sing sapa gelem nglakoni kebecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran. - See more at: http://www.peribahasa.net/peribahasa-jawa.php?page=2#sthash.Vjds3W8q.dpuf

Minggu, 15 November 2015

Paris Attacks: #prayforparis

Terrorism is a psychological warfare. Terrorists try to manipulate us and change our behavior by creating fear, uncertainty, and division in society. (Patrick J. Kennedy)

Three teams carried out the attacks in the French capital which killed 129 people and left more than 350 wounded, the Paris chief prosecutor says.

TIME wrote that there appear to have been attacks at six sites around the city, but three major attacks have emerged as the most deadly:
1. At least 100 hostages were taken in the Bataclan concert venue, during a performance by the American band, Eagles of Death Metal (the band was reported to be safe, although it was not clear whether all the crew managed to escape.)
2. At least 11 people died in shootings in two restaurants, Le Petit Cambodge and Le Carillon, which are right across the street from each other (it is not immediately clear which victims were in which establishments.)
3. Three explosions were reported at a bar outside the Stade de France to the north of the city, where thousands were gathered to watch France play Germany, and at least two are reported to be suicide bombings.

"We have to find out where they came from... and how they were financed," Francois Molins told reporters. He said seven attackers had been killed, and that all had been heavily armed and wearing explosive belts. Friday's attacks hit a concert hall, a major stadium, restaurants and bars. (BBC)

Barack Obama said that terrorist attacks on Paris were an “an attack on all of humanity and the universal values that we share,”  as he promised the full support of the United States for France.

“We stand prepared and ready to provide whatever assistance the government and the people of France need to respond,” Obama said. “We are going to do whatever it takes to work with the French people and nations around the world to bring these terrorists to justice.” (TIME)

“It is an act of war prepared and planned outside, with complicity from within the country,” French President Francois Hollande said. “It is an act of absolute barbarism. France will be ruthless in its response.”

These attacks have provided shocks not only for people in France but also all over the world. The sounds of humanity came louder as the tragedy happened. It does not really matter who is responsible for the attacks. What matters is that all people must be committed to gather and fight against terrorism by spreading love and affection everywhere.

There is no moral difference between a Stealth bomber and a suicide bomber. They both kill innocent people for political reasons.
― Tony Benn

Sugeng Tindak Mgr. Pujasumarta

Jumat, 13 November 2015 menjadi saksi saat ribuan umat Katolik melepas gembalanya Mgr. Pujasumarta ke peristirahatan terakhirnya di Kompleks Pemakaman Seminari Tinggi Kentungan. 

Bukan banyaknya pelayat yang menjadi perhatian utama saya di hari itu. Ada yang lebih menarik untuk disimak yaitu bagaimana ribuan umat yang hadir di tempat itu begitu mencintai dan menghormati Sang Gembala. Mereka ada disana bukan sekedar untuk melayat. Mereka datang karena cinta mereka kepada Mgr. Pujasumarta.

Telah kita dengar banyak pejabat pemerintahan yang mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Mgr. Puja. Juga bisa kita baca di berbagai media bahwa banyak kaum selebrita yang juga berbela sungkawa. Sungguh hal yang lazim mengingat Mgr. Puja adalah pimpinan tertinggi umat Katolik di sebagian wilayah Jateng sampai ke DIY.

Bagi saya, apa yang dikatakan orang-orang terkenal tersebut sudah menjadi suatu hal yang biasa. Namun, ada satu hal yang lebih menarik ketika saya berbincang dengan orang yang notabene adalah umat biasa, bukan pejabat dan bukan selebritis. 

Ada seorang rekan kerja saya yang menjadi pengagum Mgr. Puja sejak dahulu. Ia bertutur banyak tentang kenangan-kenangannya bersama Mgr. Puja. Ia banyak berinteraksi langsung dengan Mgr. Puja baik saat beliau sudah menjadi Uskup Agung Semarang maupun jauh sebelum itu. 

Rekan saya tersebut pernah "umuk" kepada saya bahwa Mgr. Puja pernah bermalam di rumahnya.
"Kae lho kamarku. Mgr. Puja wis tau sare ning kamar kuwi lho." ,ujarnya.
Ya.., Mgr. Puja memang pernah bermalam di rumah rekan saya itu, tepatnya di Ds Semagung, di dekat Sendangsono.
Lantas saya bertanya, "Kok ya karsa ya Mgr. Puja sare ning ndesa ngene iki. Wong banyu wae angel...?"

Sebuah pertanyaan bodoh yang mudah sekali untuk dijawab dan disangkal. Mengapa? Karena Mgr. Pujasumarta adalah orang baik. Beliau adalah pribadi yang sederhana dan rendah hati.

Kesederhanaan dan kerendahan hati Mgr. Puja adalah kekuatan utama beliau. Beliau sungguh sadar bahwa menjadi pemimpin umat bukanlah meletakkan diri diatas umat. Mgr. Puja benar-benar mempraktekkan prinsip kerendahan hatinya yaitu bahwa memimpin adalah melayani. 

Kerendahan hati, kesederhanaan, dan kehangatan Mgr. Puja sungguh menjadi ciri khas beliau yang akan sangat dirindukan umat. Akhir kata, kesucian Mgr. Pujasumarta terpancar dari hidupnya yang terpuji.

Duc In Altum
Bertolaklah ke tempat yang dalam.

Senin, 19 Oktober 2015

Nyanyian Langit



Malam ini tak seperti biasanya. Bulan tak nampak di atas sana dan bintang-bintang pergi entah kemana. Malam ini tampak sendu bagiku dan seakan melengkapi malamku yang tiada berbintang ini. Aku resah. Ya! Aku resah. Hanya aku tak tahu harus bicara pada siapa. Dia yang ingin kutumpahi keluh-kesah jiwaku telah berkelana jauh ke alam mimpi.
Langit yang suram jadi kawan sejatiku malam ini. Langit ini nampaknya tahu betapa lemah dan lelahnya aku malam ini. Aku ingin sekali bercerita pada langit. Tapi, siapakah dia? Dia pasti akan mendengar semua kisahku. Aku tahu itu. Hanya saja, dia tak menjawab sepatah kata pun pada semua yang kutanyakan.
Jadilah seribu pertanyaan di kepalaku tetap menjadi pertanyaan yang aku pun tak tahu kapan akan terjawab. Toh, semua yang kutanyai tak ada satu pun yang memberi jawab.
Orang mungkin berpikir, tolol sekali ada orang yang bicara kepada langit. Tetapi mereka yang mengatakan hal ini, pasti tak pernah tahu bahwa hanya langitlah yang tak pernah menolak untuk mendengar segala keluh-kesah sampai sumpah serapahku. 
Ia tak pernah marah walau aku sering mengumpatnya. Ia pun tak tersenyum saat aku memujanya. Akan tetapi, meski ia tak bicara dan tak menjawab, ia tahu isi diriku karena hanya ia yang selalu mendengarku dengan seksama-setia tanpa pernah berkata tidak terhadap hadirku. Langitku adalah aku dalam diamku.

Jumat, 10 Juli 2015

Why honesty?

This morning, I gave a presentation on honesty to new students at my school. It was such a difficult thing to present this topic. I personally feel that I haven’t been 100% honest in my life. It was hard, quite hard, both in preparation and delivery, but it’s gonna be much harder in the application. I realize that once I speak to the students about honesty they will watch me every day and I can’t imagine what they will think about me if they find me dishonest.

However, this task gives me an opportunity to look at myself. How honest am I? It’s the first question which came up when I prepared the presentation. I’m not a really good guy. I also live in a world of lies that can easily force me to be dishonest. I thought hard and I tried to find an answer whether I’m the right man to present this topic or not.

What went on afterwards was far beyond my presumption about myself. I found out that no matter how bad my past was, I had to give values to the life itself, more specifically to my students. I began to think about the future by thinking how I can contribute to this world.

Let’s begin now. We live in a very challenging world where many things are measured by what we have and what we don’t have. Frankly speaking, it’s all about wealthy, money, competition, etc. We forget that life is also about how to live it as it has to be and that we are all God’s creature who should create harmony in our life.

Harmony can be created by respecting each other and one of the ways to respect each other is by being honest. Honesty means being truthful in our thoughts, words, and actions. Being honest means choosing not to lie and cheat in any way although it’s not easy not to lie. We lie to avoid troubles, to look good to others, to hide behind failures, and also sometimes to avoid hurting somebody else’s heart.

Although, it’s very human and normal that sometimes we lie, we’d better try at our best to be honest. Honesty may hurt others, but it’s always better to tell the truth than to lie. Therefore, truth should be accompanied by affection and empathy. The nature of being honest is to create harmony in our life and harmony is always related to affection.

Let’s be honest for a better living. If it’s too difficult to be honest to others, start to be honest to ourselves first. We can never be honest to others without being truthful deep inside our heart. It’s not easy, but we can give it a try.  If we are honest, our character will always shine through. Listen to our heart and see what happens. God bless you all.