Sabtu, 16 Juli 2016

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS); itulah tajuk baru dari kegiatan orientasi sekolah yang telah sekian lama dilakukan oleh sekolah-sekolah di seantero Indonesia. Tahun 2016 menjadi titik awal perubahan dalam tata kelola pencetakan sumber daya manusia di Indonesia. MPLS tampaknya menjadi salah satu alat bagi Mendikbud Anies Baswedan dalam merevolusi pendidikan di Indonesia dimulai dari para siswa barunya. Hal ini jelas terlihat dalam tujuan Pengenalan Lingkungan Sekolah yang terdapat di Permen No 18 Tahun 2016  Tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru sebagai berikut:
1. Mengenali potensi diri siswa baru.
2. Membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan sekitarnya, antara lain terhadap aspek keamanan, fasilitas umum, dan sarana prasarana sekolah.
3. Menumbuhkan motivasi, semangat, dan cara belajar efektif sebagai siswa baru.
4. Mengembangkan interaksi positif antarsiswa dan warga sekolah lainnya.
5. Menumbuhkan perilaku positif antara lain kejujuran, kemandirian, sikap saling menghargai, menghormati keanekaragaman dan persatuan, kedisplinan, hidup bersih dan sehat untuk mewujudkan siswa yang memiliki nilai integritas, etos kerja, dan semangat gotong royong pada diri siswa.

Dari tujuan MPLS di atas, dapat kita interpretasikan dengan mudah bahwa Mendikbud memiliki keinginan yang baik untuk sepenuhnya menghapus perpeloncoan dari semua sekolah di Indonesia. Perpeloncoan telah sekian lama menjadi trademark dari masa orientasi atau inisiasi siswa baru di sekolah. Telah jatuh pula sekian banyak korban jiwa dalam pelaksanaan orientasi siswa baru. Selain korban jiwa, MOS di masa lalu terbukti memberikan efek negatif dalam tumbuh kembang siswa di sekolah. Senioritas yang dibumbui dengan pembalasan dendam akibat apa yang dialami sang senior di masa lalunya tatkala menjadi siswa baru sehingga mereka pun akan melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih kejam, terhadap yuniornya menjadi warna yang sangat kental terasa dalam penyelenggaraan setiap MOS di masa lalu.

Perubahan radikal ini tentu memunculkan berbagai tanggapan. Ada yang pro ada yang kontra. Namun demikian, yang patut disorot lebih tajam adalah apakah MPLS ini berjalan benar-benar sesuai dengan tujuannya atau hanya sekadar tong kosong yang nyaring bunyinya. Disini sangat dibutuhkan peran serta yang luas dari masyarakat untuk ikut memantau jalannya MPLS. Bagaimana bentuknya? Masyarakat sebagai stakeholder pendidikan Indonesia berhak dan sangat berhak untuk melaporkan setiap tindak pelanggaran MPLS. Pihak sekolah juga perlu sangat aktif dalam mengomunikasikan gerak langkah mereka berkaitan dengan pelaksanaan MPLS ini. Sekolah diharapkan untuk tidak menutup diri melainkan seluas-luasnya memberikan ruang bagi publik untuk ikut mengawasi jalannya MPLS ini. Di luar itu, sekolah juga harus mulai belajar untuk tidak memberikan laporan yang ABS atau Asal Bapak Senang hanya agar citra sekolah tetap terlihat baik  melainkan melaporkan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Semoga MPLS ini akan berjalan sesuai dengan harapan setiap warga negara Indonesia dan semoga pula MPLS menjadi tonggak perubahan para penerus bangsa ini. Mari kita berperan serta memajukan pendidikan Indonesia  dengan berbagai cara yang bisa kita lakukan.
Salam Pendidikan Indonesia.



Sabtu, 30 April 2016

Words on a Silent Night

It's not yet late at night, but it's almost... It's the time when thoughts are flying to somewhere that... I don't really know for sure what it is. Absurd. Yes, it might be absurd when you don't have any idea about the place you belong. But, it depends. It depends on one's perception to judge what it really is.
It's terribly embarassing to find out that you've been trapped here and like this. What kind of creature you are? Is it the reflection of your inability to feel grateful? Or, is it just that you've put yourself into a disastrous, horrible state of mind?
All right. All right. Time creeps slowly, slowly, and as seconds quietly pass me by, I began to realize how expensive time is. Once you pass time, you'll never get it back again.
I'm not a kind of philosopher whose words and life are so meaningful and trustworthy and should be referred to. No. Too far. Too far from that. I'm just trying to see this night as a gift and that this second won't come again.

Jumat, 01 Januari 2016

The 1st page of 366 page

Yappp. Ini adalah halaman pertama dari total 366 halaman di tahun 2016. Jumlah halaman ini tentu merujuk pada jumlah hari di tahun 2016 ini, bukan jumlah halaman di yang akan saya tulis di blog ini. Hehehe.

All right. Let's move on to our main discussion. Michael Owen di awal tahun ini berkata, "Today is the 1st of January 2016. That means we won't be in 2015 anymore." 
Maksud Owen jelas. Ini tahun baru, mari kita move on. Itu saja.

Lantas, apakah hal-hal di tahun 2015 harus kita lupakan begitu saja? Tentu saja tidak. Tapi toh tidak baik untuk terlalu banyak menengok ke belakang. Bayangkan saja apa yang akan terjadi jika kita mengendarai sepeda motor dan kita terus melihat ke belakang. Kita tidak akan pernah sampai tujuan karena kita tidak segera maju dan berjalan. Kalau kita nekad jalan dengan terus melihat ke belakang, pasti akan menabrak apapun yang ada di depan kita.

Kendaraan kita dilengkapi dengan spion yang fungsinya melihat apa yang terjadi di belakang kita sehingga kita tidak perlu menengok ke belakang atau jika kita memang kita perlu menengok ke belakang, kita tidak perlu terus menerus melakukannya. Cukup lihat spion dan sesekali tengok ke belakang. Melihat spion pun tidak perlu dilakukan terus-terusan. Bahaya broooo. Fokusnya ya ke arah depan. Melihat yang terjadi di belakang hanya dibutuhkan untuk melihat keadaan di belakang agar kita selamat saat berbelok atau melakukan take over.

Lalu apa hubungannya dengan hidup kita di tahun 2016 ini? Kira-kira begini. Boleh lah kita sesekali melihat yang terjadi di tahun lalu sebagai sebuah pengingat agar kita tetap mawas diri dan tidak lupa terhadap bagian dari sejarah hidup kita. Namun demikian, yang utama adalah melihat ke depan. Moving forward itu artinya berjalan maju dan menatap ke depan agar aman dan selamat sampai tujuan. Soal apa yang jadi tujuan, itu terserah pribadi masing-masing. Mari kita tatap tahun 2016 dengan pasti. Mau punya rencana atau tidak itu bebas, yang penting mari kita menatap ke depan dan melihat masa lalu sebagai sebuah pelajaran agar kita tetap mawas diri, bukan sebagai penghambat untuk maju.
Okay. 2016, I love you so much.