Senin, 19 Oktober 2015

Nyanyian Langit



Malam ini tak seperti biasanya. Bulan tak nampak di atas sana dan bintang-bintang pergi entah kemana. Malam ini tampak sendu bagiku dan seakan melengkapi malamku yang tiada berbintang ini. Aku resah. Ya! Aku resah. Hanya aku tak tahu harus bicara pada siapa. Dia yang ingin kutumpahi keluh-kesah jiwaku telah berkelana jauh ke alam mimpi.
Langit yang suram jadi kawan sejatiku malam ini. Langit ini nampaknya tahu betapa lemah dan lelahnya aku malam ini. Aku ingin sekali bercerita pada langit. Tapi, siapakah dia? Dia pasti akan mendengar semua kisahku. Aku tahu itu. Hanya saja, dia tak menjawab sepatah kata pun pada semua yang kutanyakan.
Jadilah seribu pertanyaan di kepalaku tetap menjadi pertanyaan yang aku pun tak tahu kapan akan terjawab. Toh, semua yang kutanyai tak ada satu pun yang memberi jawab.
Orang mungkin berpikir, tolol sekali ada orang yang bicara kepada langit. Tetapi mereka yang mengatakan hal ini, pasti tak pernah tahu bahwa hanya langitlah yang tak pernah menolak untuk mendengar segala keluh-kesah sampai sumpah serapahku. 
Ia tak pernah marah walau aku sering mengumpatnya. Ia pun tak tersenyum saat aku memujanya. Akan tetapi, meski ia tak bicara dan tak menjawab, ia tahu isi diriku karena hanya ia yang selalu mendengarku dengan seksama-setia tanpa pernah berkata tidak terhadap hadirku. Langitku adalah aku dalam diamku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar