Minggu, 15 November 2015

Sugeng Tindak Mgr. Pujasumarta

Jumat, 13 November 2015 menjadi saksi saat ribuan umat Katolik melepas gembalanya Mgr. Pujasumarta ke peristirahatan terakhirnya di Kompleks Pemakaman Seminari Tinggi Kentungan. 

Bukan banyaknya pelayat yang menjadi perhatian utama saya di hari itu. Ada yang lebih menarik untuk disimak yaitu bagaimana ribuan umat yang hadir di tempat itu begitu mencintai dan menghormati Sang Gembala. Mereka ada disana bukan sekedar untuk melayat. Mereka datang karena cinta mereka kepada Mgr. Pujasumarta.

Telah kita dengar banyak pejabat pemerintahan yang mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Mgr. Puja. Juga bisa kita baca di berbagai media bahwa banyak kaum selebrita yang juga berbela sungkawa. Sungguh hal yang lazim mengingat Mgr. Puja adalah pimpinan tertinggi umat Katolik di sebagian wilayah Jateng sampai ke DIY.

Bagi saya, apa yang dikatakan orang-orang terkenal tersebut sudah menjadi suatu hal yang biasa. Namun, ada satu hal yang lebih menarik ketika saya berbincang dengan orang yang notabene adalah umat biasa, bukan pejabat dan bukan selebritis. 

Ada seorang rekan kerja saya yang menjadi pengagum Mgr. Puja sejak dahulu. Ia bertutur banyak tentang kenangan-kenangannya bersama Mgr. Puja. Ia banyak berinteraksi langsung dengan Mgr. Puja baik saat beliau sudah menjadi Uskup Agung Semarang maupun jauh sebelum itu. 

Rekan saya tersebut pernah "umuk" kepada saya bahwa Mgr. Puja pernah bermalam di rumahnya.
"Kae lho kamarku. Mgr. Puja wis tau sare ning kamar kuwi lho." ,ujarnya.
Ya.., Mgr. Puja memang pernah bermalam di rumah rekan saya itu, tepatnya di Ds Semagung, di dekat Sendangsono.
Lantas saya bertanya, "Kok ya karsa ya Mgr. Puja sare ning ndesa ngene iki. Wong banyu wae angel...?"

Sebuah pertanyaan bodoh yang mudah sekali untuk dijawab dan disangkal. Mengapa? Karena Mgr. Pujasumarta adalah orang baik. Beliau adalah pribadi yang sederhana dan rendah hati.

Kesederhanaan dan kerendahan hati Mgr. Puja adalah kekuatan utama beliau. Beliau sungguh sadar bahwa menjadi pemimpin umat bukanlah meletakkan diri diatas umat. Mgr. Puja benar-benar mempraktekkan prinsip kerendahan hatinya yaitu bahwa memimpin adalah melayani. 

Kerendahan hati, kesederhanaan, dan kehangatan Mgr. Puja sungguh menjadi ciri khas beliau yang akan sangat dirindukan umat. Akhir kata, kesucian Mgr. Pujasumarta terpancar dari hidupnya yang terpuji.

Duc In Altum
Bertolaklah ke tempat yang dalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar