Senin, 23 November 2015

Setya Novanto dan Pertaruhan MKD

Hari ini, 23 November 2015, Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) akan melakukan rapat internal berkaitan dengan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan Ketua DPR Setya Novanto. Masyarakat luas tentu berharap bahwa kasus dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh Setya Novanto dapat dilakukan secara transparan dan adil.
Dapatkah MKD memutus kasus ini dengan seadil-adilnya? Hal ini tentu bergantung pada nurani para anggota MKD. Jika mereka masih memiliki hati dan pikiran yang bersih maka tentu saja mereka akan berupaya untuk menangani kasus ini dengan baik. Namun jika tidak, maka mereka akan berupaya untuk menyelesaikan kasus ini demi kepentingan salah satu pihak.
Gawatnya lagi adalah jika ternyata di tengah penyelesaian kasus ini bergelimang uang sebagai jaminan lolosnya Setya Novanto dari lubang jarum. Masyarakatyang menjadi penonton dalam kasus ini nantinya akan sangat mudah menilai integritas MKD melalui putusannya menyangkut nasib Setya Novanto.
Mahkamah Kehormatan Dewan diminta tak mengulangi kesalahan mereka lagi seperti saat Setya Novanto lolos dalam kasus kehadirannya di kampanye Donald Trump. Keputusan MKD yang meloloskan Setya Novanto atas pertemuannya dengan Donald Trump telah menampar wajah lembaga tersebut di hadapan masyarakat.
Kasus "papa minta saham" ini akan menjadi pertaruhan bagi kepercayaan masyarakat kepada MKD. Jika MKD mengedepankan integritasnya maka masyarakat akan memberikan standing ovation, namun jika sebaliknya, maka MKD harus siap menerima penghakiman dari masyarakat.


Diambil dari:
http://www.kompasiana.com/yohanes_sandi/setya-novanto-dan-pertaruhan-mkd_565282f72f7a61fa038b458f

Senin, 16 November 2015

Who's gonna come to my funeral?

Beberapa hari yang lalu, seorang rekan saya melontarkan sebuah pertanyaan yang mengejutkan saat kami sedang berbincang ringan, Ia bertanya, "Suk nek aku mati ono sing ngrumat ra ya?"

Sontak saya terhenyak dengan pertanyaan tersebut. Spontan saya menjawab, "Ono. Aku bakal ngrumat kowe nek aku durung ditimbali luwih dhisik..."

Pertanyaan tersebut rupa-rupanya muncul karena rekan saya begitu kagum dengan besarnya penghormatan yang diberikan oleh umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang ketika melepas kepergian Mgr. J. Pujasumarta ke peristirahatan terakhirnya.
Umat begitu "bersemangat" untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Mgr. Puja. Mulai sejak jenazah Mgr. Puja disemayamkan di Gereja Katedral Semarang, di sepanjang perjalanan dari Semarang menuju ke Yogyakarta, dan hingga beliau dimakamkan di Kentungan, Yogyakarta, ribuan umat rela berdesak-desakan untuk sekedar melihat peti jenazah beliau.

Pertanyaan reflektif tersebut pun membuat saya berpikir ulang tentang hidup saya. Lantas, muncul pertanyaan lanjutan di kepala saya,. Sudah siapkah saya jika Yang Mahakuasa setiap saat memanggil saya? Sudah cukupkah modal kebaikan yang saya kumpulkan sampai saat ini untuk membawa saya pulang kepada-Nya? Apakah ada orang-orang yang rela menemani saya di saat-saat terakhir saya sebelum berpulang? Apakah orang-orang tersebut mau merawat saya yang telah lunglai tak berdaya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus berputar di kepala saya. Kemana saya harus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan aneh tersebut?

Saya coba bertanya kepada beberapa orang terkait pertanyaan tersebut. Sebagian besar dari mereka menjawab, "Rasah aneh-aneh. Rasah takon sing aneh-aneh."

Tentu saja jawaban tersebut tidak dapat memuaskan hasrat saya. Saya terus mencari dan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut hingga akhirnya seorang rekan senior menjawab dengan lugas, "Sing sapa gelem nglakoni kabecikan lan uga gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran." Kalimat itupun masih bersambung, "Lan ojo lali, sapa sing nandur bakal ngundhuh..."

Jawaban tersebut membuka mata saya bahwa semua yang terjadi di dunia ini memang berakar pada hukum sebab-akibat. Apa yang kita terima bersumber dari apa yang telah kita lakukan. Jika yang kita tanam adalah bibit kebaikan maka yang akan kita tuai adalah kebaikan pula.

Mudahkah? Tentu tidak. Sebaik-baiknya yang kita lakukan kadang masih ada saja yang mencela. Lantas kita harus bagaimana? Kita memiliki pilihan akan apa yang harus dilakukan. Namun demikian, semua perlu kita kembalikan ke dalam diri kita lagi. Sudahkah kita sempurna sehingga kita tidak mau dicela? Atau, bersediakah kita dengan penuh kerendahan hati mengakui segala kekurangan kita?

Mgr. Pujasumarta, sang gembala umat, memiliki motto hidup Duc In Altum. Duc in Altum, mempunyai arti bertolak ke tempat yang lebih dalam. Mgr. Puja begitu menghayati motto hidupnya dengan terus merefleksikannya dalam hidup sehari-hari. Walhasil, Mgr. Puja hadir sebagai pribadi yang sangat sederhana dan rendah hati.

Mana yang akan kita pilih, menjadi sombong atau memilih untuk tetap rendah hati? Banyak ajaran-ajaran dan keutamaan-keutamaan yang kiranya dapat menuntun kita untuk mencapai hidup yang lebih baik. 

Finally,
Durung menang yen durung wani kalah, durung unggul yen durung wani asor, durung gedhe yen durung wani cilik.
Gusti iku dumunung ana atining manungsa kang becik, mula iku diarani Gusti iku bagusing ati.
Sing sapa gelem nglakoni kebecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran. - See more at: http://www.peribahasa.net/peribahasa-jawa.php?page=2#sthash.Vjds3W8q.dpuf
Sing sapa gelem nglakoni kebecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran. - See more at: http://www.peribahasa.net/peribahasa-jawa.php?page=2#sthash.Vjds3W8q.dpuf
Sing sapa gelem nglakoni kebecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran. - See more at: http://www.peribahasa.net/peribahasa-jawa.php?page=2#sthash.Vjds3W8q.dpuf

Minggu, 15 November 2015

Paris Attacks: #prayforparis

Terrorism is a psychological warfare. Terrorists try to manipulate us and change our behavior by creating fear, uncertainty, and division in society. (Patrick J. Kennedy)

Three teams carried out the attacks in the French capital which killed 129 people and left more than 350 wounded, the Paris chief prosecutor says.

TIME wrote that there appear to have been attacks at six sites around the city, but three major attacks have emerged as the most deadly:
1. At least 100 hostages were taken in the Bataclan concert venue, during a performance by the American band, Eagles of Death Metal (the band was reported to be safe, although it was not clear whether all the crew managed to escape.)
2. At least 11 people died in shootings in two restaurants, Le Petit Cambodge and Le Carillon, which are right across the street from each other (it is not immediately clear which victims were in which establishments.)
3. Three explosions were reported at a bar outside the Stade de France to the north of the city, where thousands were gathered to watch France play Germany, and at least two are reported to be suicide bombings.

"We have to find out where they came from... and how they were financed," Francois Molins told reporters. He said seven attackers had been killed, and that all had been heavily armed and wearing explosive belts. Friday's attacks hit a concert hall, a major stadium, restaurants and bars. (BBC)

Barack Obama said that terrorist attacks on Paris were an “an attack on all of humanity and the universal values that we share,”  as he promised the full support of the United States for France.

“We stand prepared and ready to provide whatever assistance the government and the people of France need to respond,” Obama said. “We are going to do whatever it takes to work with the French people and nations around the world to bring these terrorists to justice.” (TIME)

“It is an act of war prepared and planned outside, with complicity from within the country,” French President Francois Hollande said. “It is an act of absolute barbarism. France will be ruthless in its response.”

These attacks have provided shocks not only for people in France but also all over the world. The sounds of humanity came louder as the tragedy happened. It does not really matter who is responsible for the attacks. What matters is that all people must be committed to gather and fight against terrorism by spreading love and affection everywhere.

There is no moral difference between a Stealth bomber and a suicide bomber. They both kill innocent people for political reasons.
― Tony Benn

Sugeng Tindak Mgr. Pujasumarta

Jumat, 13 November 2015 menjadi saksi saat ribuan umat Katolik melepas gembalanya Mgr. Pujasumarta ke peristirahatan terakhirnya di Kompleks Pemakaman Seminari Tinggi Kentungan. 

Bukan banyaknya pelayat yang menjadi perhatian utama saya di hari itu. Ada yang lebih menarik untuk disimak yaitu bagaimana ribuan umat yang hadir di tempat itu begitu mencintai dan menghormati Sang Gembala. Mereka ada disana bukan sekedar untuk melayat. Mereka datang karena cinta mereka kepada Mgr. Pujasumarta.

Telah kita dengar banyak pejabat pemerintahan yang mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Mgr. Puja. Juga bisa kita baca di berbagai media bahwa banyak kaum selebrita yang juga berbela sungkawa. Sungguh hal yang lazim mengingat Mgr. Puja adalah pimpinan tertinggi umat Katolik di sebagian wilayah Jateng sampai ke DIY.

Bagi saya, apa yang dikatakan orang-orang terkenal tersebut sudah menjadi suatu hal yang biasa. Namun, ada satu hal yang lebih menarik ketika saya berbincang dengan orang yang notabene adalah umat biasa, bukan pejabat dan bukan selebritis. 

Ada seorang rekan kerja saya yang menjadi pengagum Mgr. Puja sejak dahulu. Ia bertutur banyak tentang kenangan-kenangannya bersama Mgr. Puja. Ia banyak berinteraksi langsung dengan Mgr. Puja baik saat beliau sudah menjadi Uskup Agung Semarang maupun jauh sebelum itu. 

Rekan saya tersebut pernah "umuk" kepada saya bahwa Mgr. Puja pernah bermalam di rumahnya.
"Kae lho kamarku. Mgr. Puja wis tau sare ning kamar kuwi lho." ,ujarnya.
Ya.., Mgr. Puja memang pernah bermalam di rumah rekan saya itu, tepatnya di Ds Semagung, di dekat Sendangsono.
Lantas saya bertanya, "Kok ya karsa ya Mgr. Puja sare ning ndesa ngene iki. Wong banyu wae angel...?"

Sebuah pertanyaan bodoh yang mudah sekali untuk dijawab dan disangkal. Mengapa? Karena Mgr. Pujasumarta adalah orang baik. Beliau adalah pribadi yang sederhana dan rendah hati.

Kesederhanaan dan kerendahan hati Mgr. Puja adalah kekuatan utama beliau. Beliau sungguh sadar bahwa menjadi pemimpin umat bukanlah meletakkan diri diatas umat. Mgr. Puja benar-benar mempraktekkan prinsip kerendahan hatinya yaitu bahwa memimpin adalah melayani. 

Kerendahan hati, kesederhanaan, dan kehangatan Mgr. Puja sungguh menjadi ciri khas beliau yang akan sangat dirindukan umat. Akhir kata, kesucian Mgr. Pujasumarta terpancar dari hidupnya yang terpuji.

Duc In Altum
Bertolaklah ke tempat yang dalam.