Malam ini tak seperti biasanya. Bulan tak nampak di
atas sana dan bintang-bintang pergi entah kemana. Malam ini tampak sendu bagiku dan
seakan melengkapi malamku yang tiada berbintang ini. Aku resah. Ya! Aku resah.
Hanya aku tak tahu harus bicara pada siapa. Dia yang ingin kutumpahi
keluh-kesah jiwaku telah berkelana jauh ke alam mimpi.
Langit yang suram jadi kawan sejatiku malam ini. Langit
ini nampaknya tahu betapa lemah dan lelahnya aku malam ini. Aku ingin sekali
bercerita pada langit. Tapi, siapakah dia? Dia pasti akan mendengar semua
kisahku. Aku tahu itu. Hanya saja, dia tak menjawab sepatah kata pun pada semua
yang kutanyakan.
Jadilah seribu pertanyaan di kepalaku tetap menjadi
pertanyaan yang aku pun tak tahu kapan akan terjawab. Toh, semua yang kutanyai tak
ada satu pun yang memberi jawab.
Orang mungkin berpikir, tolol sekali ada orang yang
bicara kepada langit. Tetapi mereka yang mengatakan hal ini, pasti tak pernah
tahu bahwa hanya langitlah yang tak pernah menolak untuk mendengar segala
keluh-kesah sampai sumpah serapahku.
Ia tak pernah marah walau aku sering
mengumpatnya. Ia pun tak tersenyum saat aku memujanya. Akan tetapi, meski ia
tak bicara dan tak menjawab, ia tahu isi diriku karena hanya ia yang selalu
mendengarku dengan seksama-setia tanpa pernah berkata tidak terhadap hadirku.
Langitku adalah aku dalam diamku.