Beberapa hari yang lalu, seorang rekan saya melontarkan sebuah pertanyaan yang mengejutkan saat kami sedang berbincang ringan, Ia bertanya, "Suk nek aku mati ono sing ngrumat ra ya?"
Sontak saya terhenyak dengan pertanyaan tersebut. Spontan saya menjawab, "Ono. Aku bakal ngrumat kowe nek aku durung ditimbali luwih dhisik..."
Pertanyaan tersebut rupa-rupanya muncul karena rekan saya begitu kagum dengan besarnya penghormatan yang diberikan oleh umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang ketika melepas kepergian Mgr. J. Pujasumarta ke peristirahatan terakhirnya.
Umat begitu "bersemangat" untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Mgr. Puja. Mulai sejak jenazah Mgr. Puja disemayamkan di Gereja Katedral Semarang, di sepanjang perjalanan dari Semarang menuju ke Yogyakarta, dan hingga beliau dimakamkan di Kentungan, Yogyakarta, ribuan umat rela berdesak-desakan untuk sekedar melihat peti jenazah beliau.
Pertanyaan reflektif tersebut pun membuat saya berpikir ulang tentang hidup saya. Lantas, muncul pertanyaan lanjutan di kepala saya,. Sudah siapkah saya jika Yang Mahakuasa setiap saat memanggil saya? Sudah cukupkah modal kebaikan yang saya kumpulkan sampai saat ini untuk membawa saya pulang kepada-Nya? Apakah ada orang-orang yang rela menemani saya di saat-saat terakhir saya sebelum berpulang? Apakah orang-orang tersebut mau merawat saya yang telah lunglai tak berdaya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus berputar di kepala saya. Kemana saya harus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan aneh tersebut?
Saya coba bertanya kepada beberapa orang terkait pertanyaan tersebut. Sebagian besar dari mereka menjawab, "Rasah aneh-aneh. Rasah takon sing aneh-aneh."
Tentu saja jawaban tersebut tidak dapat memuaskan hasrat saya. Saya terus mencari dan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut hingga akhirnya seorang rekan senior menjawab dengan lugas, "Sing sapa gelem nglakoni kabecikan lan uga gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran." Kalimat itupun masih bersambung, "Lan ojo lali, sapa sing nandur bakal ngundhuh..."
Jawaban tersebut membuka mata saya bahwa semua yang terjadi di dunia ini memang berakar pada hukum sebab-akibat. Apa yang kita terima bersumber dari apa yang telah kita lakukan. Jika yang kita tanam adalah bibit kebaikan maka yang akan kita tuai adalah kebaikan pula.
Mudahkah? Tentu tidak. Sebaik-baiknya yang kita lakukan kadang masih ada saja yang mencela. Lantas kita harus bagaimana? Kita memiliki pilihan akan apa yang harus dilakukan. Namun demikian, semua perlu kita kembalikan ke dalam diri kita lagi. Sudahkah kita sempurna sehingga kita tidak mau dicela? Atau, bersediakah kita dengan penuh kerendahan hati mengakui segala kekurangan kita?
Mgr. Pujasumarta, sang gembala umat, memiliki motto hidup Duc In Altum. Duc in Altum,
mempunyai arti bertolak ke tempat yang lebih dalam. Mgr. Puja begitu
menghayati motto hidupnya dengan terus merefleksikannya dalam hidup
sehari-hari. Walhasil, Mgr. Puja hadir sebagai pribadi yang sangat
sederhana dan rendah hati.
Mana yang akan kita pilih, menjadi sombong atau memilih untuk tetap rendah hati? Banyak ajaran-ajaran dan keutamaan-keutamaan yang kiranya dapat menuntun kita untuk mencapai hidup yang lebih baik.
Finally,
Durung menang yen durung wani kalah, durung unggul yen durung wani asor, durung gedhe yen durung wani cilik.
Gusti iku dumunung ana atining manungsa kang becik, mula iku diarani Gusti iku bagusing ati.
Durung menang yen durung wani kalah, durung unggul yen durung wani asor, durung gedhe yen durung wani cilik.
Gusti iku dumunung ana atining manungsa kang becik, mula iku diarani Gusti iku bagusing ati.
Sing
sapa gelem nglakoni kebecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal
tampa kanugrahaning Pangeran. - See more at:
http://www.peribahasa.net/peribahasa-jawa.php?page=2#sthash.Vjds3W8q.dpuf
Sing
sapa gelem nglakoni kebecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal
tampa kanugrahaning Pangeran. - See more at:
http://www.peribahasa.net/peribahasa-jawa.php?page=2#sthash.Vjds3W8q.dpuf
Sing
sapa gelem nglakoni kebecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal
tampa kanugrahaning Pangeran. - See more at:
http://www.peribahasa.net/peribahasa-jawa.php?page=2#sthash.Vjds3W8q.dpuf
renungan yang cukup mendalam mas... terhanyut saya olehnya :)
BalasHapus